Mari Bergabung Dalam KOMSOS !!
Explore your unlimited talents in journalistic, multimedia and worship.

SAAT TEDUH YANG MEMBAWA BERKAT

   Mesin mobil dan motor perlu di-tune-up. Alat pendingin dirumah juga perlu diservice secara teratur. Demikian pula kehidupan kita. Kita perlu saat teduh secara regular untuk menyegarkan kembali kehidupan kita. Apakah saat teduh itu? Mengapa kita perlu bersaat teduh? Dan apa yang harus kita lakukan agar saat teduh bermanfaat dan membawa berkat tidak hanya bagi kita tetapi juga bagi orang-orang sekitar kita? Simak yang berikut.
APAKAH SAAT TEDUH ITU?
Ada banyak istilah untuk saat teduh. Ada yang menamakannya meditasi, waktu merenung, ataupun saat tenang. Apapun istilahnya, saat teduh adalah saat yang kita sisihkan untuk pengembangan diri secara utuh(personal growth).
WAKTU KHUSUS
Saat teduh merupakan waktu khusus yang kita sisihkan untuk mengisi kembali ”baterai” kehidupan kita, yang mungkin sudah melemah. Waktu yang perlu disisihkan ini janganlah waktu “sisa”, tetapi haruslah waktu dimana kita justru dalam kondisi prima, sehingga konsentrasi bisa penuh dan saat teduh bisa bermanfaat optimal.
WAKTU REGULER
Saat teduh harus disisihkan secara regular. Ada saat teduh yang perlu kita sisihkan setiap hari(dipagi, siang, ataupun malam hari). Ada saat teduh mingguan(hari Sabtu, Minggu, ataupun hari lainnya), ada pula saat teduh yang perlu kita sisihkan untuk mengevaluasi dan membuat perencanaan tahunan(Desember, Januari, atau dihari ulang tahun kita)
TUJUAN
Saat teduh bertujuan untuk mengisi kembali baterai kehidupan spiritual, mental dan emosional kita. Disaat teduh kita memupuk pertumbuhan diri secara utuh(mental, emosional dan spiritual)Jadi dalam saat teduh, kita melakukan evaluasi, membuat perencanaan, mencari solusi, memupuk pengetahuan dan mendekatkan diri pada Yangmahakuasa.
MENGAPA SAAT TEDUH PENTING?


MARI MEWARNAI

 

 

 


Hidup Para Kudus Dan Sakramen Mahakudus

Hidup para kudus menceritakan banyak sekali peristiwa yang menunjukkan cinta mereka yang besar pada Sakramen yang Mahakudus ini, karena mereka melihat segala-galanya dalam pandangan kontemplatif, yaitu pandangan iman. Mereka melihat apa yang tidak mungkin dilihat oleh mata jasmani manusia, karena mereka telah melihatnya dengan mata iman. Ini merupakan sesuatu yang mengagumkan. Di dalamnya mereka melihat rahmat yang tak terkatakan.
Tradisi dan devosi terhadap Sakramen Mahakudus sudah dimulai oleh para bapa Gereja. Dasarnya adalah Kitab Suci sendiri, seperti yang kita jumpai dalam Injil sinoptik, khususnya Injil Yohanes, namun juga dalam tulisan-tulisan St. Paulus. St. Yohanes Krisostomus, pengkotbah ulung bermulut emas, secara mendalam menangkap arti Ekaristi ini, “Kita dipanggil untuk memersatukan diri kita dengan Tuhan yang bahkan para malaikat pun tidak berani memandangNya. Kita dipanggil untuk memersatukan diri denganNya. Kita dijadikan satu tubuh dan satu daging dengan Tuhan sendiri.” Demikian pula, St. Cyrillus Alexandria berkata, ”Sebagaimana dua lilin yang dijadikan satu, demikian juga jiwa yang menerima komuni dipersatukan sedemikian rupa, sehingga Yesus tinggal di dalam dirinya.” Juga St. Thomas menyatakan bahwa ”Ekaristi adalah Sakramen cintakasih Allah dan tanda kasih Allah yang paling besar.”


St. ROSA dari VITERBO


PEDOMAN BIBLIS PERKAWINAN (1)

•Tujuan Perkawinan: Persatuan Penuh Cinta (Kasih) dan Pembiakan (Hidup)
Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, Seturut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan. Allah memberkati mereka, lalu berfirman: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu….” TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawaNya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging (Kejadian 1:27-28, 2:18-24).


KPK GUNCANG

 

 

 

 


KLAIM BUDAYA


SIKAP BERAGAMA SEJATI?

Dalam tiap agama ditumbuhkan dan dikembangkan hidup rohani lewat lembaga hukum, aturan, tatacara, upacara, dan pemahaman kisah-kisah sakral (Kitab Suci). ada tujuan kerohanian dan  sarananya, yaitu kelembagaan tadi. Dalam kenyataan kerap tujuan dan sarana saling bertukar. Tata upacara atau hukum agama menjadi makin dipentingkan dan menyingkirkan semua yang dirasa tidak sejalan. Akibatnya, kelembagaan menjadi tujuan beragama, bukan lagi sarana. Sarana kelembagaan dipinggirkan.
Permasalahan ini tecermin dalam Mrk 7:1-8.14-15.21-23. Yesus ditanyai orang Farisi dan ahli Taurat, mengapa murid-muridnya tidak menaati adat turun temurun membasuh tangan sebelum makan. Yesus tidak hendak mengurangi wibawa kelembagaan agama. Ia malah ingin memurnikannya sehingga dapat membawa ke tujuan sejatinya. Ia memakai bahasa yang amat nyata bahwa yang perlu dibasuh bukannya tangan atau piring mangkuk, melainkan batin manusia.
Ada kecenderungan menjalankan sikap keagamaan secara berlebihan. Yang ada di luar lingkup keagamaan dianggap kotor dan busuk. Manakah tujuan hidup beragama sebenarnya melawan dunia dengan asal melawan atau mengembangkan hidup rohani yang mantap sehingga dapat berdialog dengan pihak lain, mungkin kita merasa jauh lebih maju dari kelompok "lain", merasa toleran, terbuka, berpijak pada kenyataan di masyarakat. Sungguh sudah bersihkah yang ada di dalam batin? Apakah kita memiliki cara pandang yang memadai mengenai keadaan di sekitar. Yesus tidaklah mendaftar kebusukan begitu saja, melainkan mengajar mereka di mana benih kebusukan sendiri merajalela, yakni dalam batin manusia yang tak peduli lagi akan sisi-sisi rohani. Batin yang demikian itu memupuk kebusukan. Bagaimana keluar dari sana? Tumbuhkan kepekaan rohani sehingga kebusukan tak subur lagi. (Ist)


LUAR BIASA!


 

Yoh 6:60-69 menunjukkan bagaimana para murid yang paling dekat pun merasakan kesulitan memahami perkataan Yesus mengenai dirinya sebagai roti kehidupan yang turun dari surga. Lebih sukar lagi mengerti penjelasan Yesus bahwa tak ada seorang pun dapat datang kepadanya bila Bapa tidak mengaruniakannya. Untuk menemukan jalan sampai kepada Bapa katanya, perlu lewat Yesus. Ditandaskan, untuk datang ke Yesus perlu karunia dari Bapa.
  Pengajaran Yesus kepada orang-orang sezamannya dulu memang amat berani. Luar biasa! Bukan hanya mengguncang, tapi juga serasa meruntuhkan bangunan doktrin keagamaan yang tak dipertanyakan dan tak boleh dipertanyakan. Yesus mengurungkan satu pokok yang paling dasar dalam bangunan keagamaan Yahudi, yakni gagasan bahwa dari hari ke hari umat dihidupi langsung oleh Allah dengan makanan dari surga. Ditegaskan, hal itu belum cukup untuk menjamin orang sampai ke tujuan hidup yang sesungguhnya, yakni hidup abadi. Yang bakal menghidupi manusia ialah semua yang dilakukan dan diajarkannya.
Tentu saja klaim seradikal itu bikin geger. Berarti surga kini datang ke dunia manusia. Surga bukan lagi tempat nun jauh di sana dan belum terjangkau. Dalam hal ini hendak ditawarkan ialah benih surga yang tumbuh di dunia ini yang terus akan membesar dan menaungi semua yang hidup di bawahnya. Surga itu kenyataan yang dapat mulai dibangun di sini bersama dengan dia yang ada dalam batin kita - Roti Kehidupan. Lebih lanjut, perjumpaan dengan dia yang amat dekat dengan Allah sendiri menumbuhkan kerohanian yang makin matang. Yesus bukan guru yang mengajarkan abc belaka, ia mengajak orang belajar menemukan Yang Ilahi yang sering samar-samar terlihat dan lirih terdengar. (Ist)


BULAN PUASA


Syndicate content