Mari Bergabung Dalam KOMSOS !!
Explore your unlimited talents in journalistic, multimedia and worship.

SAKRAMEN EKARISTI [8]

PANDANGAN TEOLOGIS DAN AJARAN GEREJA (2)


TIPS MERAYAKAN EKARISTI


TUNDUK & MEMBUNGKUK


Ideologi Teroris Belum Sirna di Indonesia


St. Hieronimus


Bagaimana Mendapatkan Jodoh?

Ada pepatah mengatakan: “Awal yang baik sudah merupakah separuh pekerjaan” dan “Setiap awal itu sulit”. Hal ini berlaku pula bagi persiapan perkawinan, khususnya pemilihan pasangan hidup. Kesalahan pada awal, baik salah pilih maupun keputusan kurang selektif dalam keadaan “panik”, dapat  berakibat fatal bagi perkawinan. Familiaris Consortio (FC) no. 66 menegaskan: “... Pengalaman menunjukkan bahwa orang-orang muda yang dipersiapkan dengan baik untuk hidup berkeluarga, pada umumnya berhasil lebih baik daripada lain-lainnya.” Usaha pastoral pemilihan pasangan hidup harus dibahas dalam rangka pastoral persiapan perkawinan dan keluarga. Pastoral itu meliputi jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Persiapan jangka panjang dimulai dengan pembinaan kepribadian dan iman anak, jangka menengah dengan katekese Sakramen Perkawinan, dan persiapan jangka pendek untuk perayaan Sakramen Perkawinan.

Beberapa hal yang dapat membantu muda-mudi mendapatkan pasangan hidup:
 1. Metode Tak Langsung, ialah usaha-usaha yang tak langsung mempengaruhi    proses itu, tetapi hanya menciptakan persyaratan yang dapat mempertemukan   orang-orang yang sama-sama mencari pasangan hidup;
 2. Metode Langsung ialah usaha-usaha yang lebih ekspisit menciptakan     persyaratan serta suasana yang sesuai, agar mereka yang    mencari pasangan hidup mendapat kesempatan lebih jelas   untuk tanpa jalan berliku-liku menemukannya.


ARUS MUDIK

 

 

 


SETELAH LIBURAN


KESERAGAMAN ATAU KERAGAMAN?

Dalam Mrk 9:38-43.45.47-48 diutarakan bagaimana suatu ketika Yohanes, bercerita kepada Yesus bahwa mereka melihat orang yang mengeluarkan setan demi namaNya. Yohanes mencegah, karena orang itu bukan salah satu dari pengikut para murid Yesus! Yesus meluruskan pendapat Yohanes. Dilebarkannya pula pandangan pada murid lainnya. Mereka diajar agar tidak melihat diri sebagai kelompok pusat dalam umat. Janganlah menganggap orang-orang yang belum atau tidak bergabung dengan mereka sebagai bukan pengikut Yesus. Ukuran bagi pengikut Yesus kiranya bukanlah keseragaman dengan para murid tadi, melainkan keselarasan dengan Yesus dan dengan pengutusan yang dijalaninya. Keselarasan ini bisa bermacam-macam ujudnya, bisa memuat keragaman.
Yesus mengajak para murid menumbuhkan kelonggaran hati. Dikatakannya tentang orang yang mengeluarkan setan tapi bukan pengikut mereka, "Jangan kamu cegah dia, sebab tidak ada seorang pun yang telah mengerjakan mukjizat demi namaKu dapat seketika itu juga mengumpat aku." Bagi Yesus orang itu jelas-jelas menjadi pengikutnya. Para murid Yesus, yang paling dekat sekalipun, diminta agar longgar hati menghargai keragaman. Mereka di himbau agar memandang diri dengan cara yang benar. Mendatangkan pahala bagi orang lain bukan karena diri mereka sendiri, melainkan karena mereka itu adalah pengikutnya. Menjadi pengikut Kristus, itulah yang membawakan keselamatan bagi orang lain, bukan menjadi pengikut para murid.
Ia menegaskan betapa berharganya orang yang menjadi pengikut Yesus, siapa saja, entah para murid dekat entah yang di luar kalangan itu. Mereka yang merasa sudah lebih dekat dengannya diminta agar memperhatikan orang-orang yang mau mengikutinya. Kesetiaan pada tanggung jawab ini tanda kejujuran murid sang Guru dan menjadi ukuran bagi integritas Gereja di dunia ini. (Ist)


KESERAGAMAN ATAU KERAGAMAN?

Dalam Mrk 9:38-43.45.47-48 diutarakan bagaimana suatu ketika Yohanes, bercerita kepada Yesus bahwa mereka melihat orang yang mengeluarkan setan demi namaNya. Yohanes mencegah, karena orang itu bukan salah satu dari pengikut para murid Yesus! Yesus meluruskan pendapat Yohanes. Dilebarkannya pula pandangan pada murid lainnya. Mereka diajar agar tidak melihat diri sebagai kelompok pusat dalam umat. Janganlah menganggap orang-orang yang belum atau tidak bergabung dengan mereka sebagai bukan pengikut Yesus. Ukuran bagi pengikut Yesus kiranya bukanlah keseragaman dengan para murid tadi, melainkan keselarasan dengan Yesus dan dengan pengutusan yang dijalaninya. Keselarasan ini bisa bermacam-macam ujudnya, bisa memuat keragaman.
Yesus mengajak para murid menumbuhkan kelonggaran hati. Dikatakannya tentang orang yang mengeluarkan setan tapi bukan pengikut mereka, "Jangan kamu cegah dia, sebab tidak ada seorang pun yang telah mengerjakan mukjizat demi namaKu dapat seketika itu juga mengumpat aku." Bagi Yesus orang itu jelas-jelas menjadi pengikutnya. Para murid Yesus, yang paling dekat sekalipun, diminta agar longgar hati menghargai keragaman. Mereka di himbau agar memandang diri dengan cara yang benar. Mendatangkan pahala bagi orang lain bukan karena diri mereka sendiri, melainkan karena mereka itu adalah pengikutnya. Menjadi pengikut Kristus, itulah yang membawakan keselamatan bagi orang lain, bukan menjadi pengikut para murid.
Ia menegaskan betapa berharganya orang yang menjadi pengikut Yesus, siapa saja, entah para murid dekat entah yang di luar kalangan itu. Mereka yang merasa sudah lebih dekat dengannya diminta agar memperhatikan orang-orang yang mau mengikutinya. Kesetiaan pada tanggung jawab ini tanda kejujuran murid sang Guru dan menjadi ukuran bagi integritas Gereja di dunia ini. (Ist)


Syndicate content