SEJARAH PAROKI ST. ANDREAS SUKARAJA BOGOR

Dibanding paroki lain di Keuskupan Bogor, gereja St.Andreas terbilang kecil dan sangat sederhana: hanya seluas 337 meter persegi. Tanpa halaman apalagi ruang rapat dan ruang bidang terkait. Hanya ada ruang sekretariat kecil berukuran  1,7 x 2,6 meter persegi dengan diisi dua buah komputer; berbagi tempat dengan seksi Komsos. Sementara ruang disebelahnya (+/- seluas 28 X 3,6 meter), dipakai aneka macam fungsi: ruang perpustakaan, rak buku, tempat menyimpan dokumen-dokumen, ruang makan, tempat praktek pengobatan umum dlsb.

 

   

Begitu sederhananya hingga bahan untuk mendirikan bangunan seperti kayu dan tegel diambil dari puing bongkaran bekas Kantor Sekretariat Katedral. Demikian pula peralatan gereja seperti bangku disumbang dan hibah dari Paroki St.Matheus Depok Timur, Paroki Keluarga Kudus Cibinong dan Paroki St,Fransiskus Asisi, Sukasari. Demikian pula ketika gereja stasi membutuhkan kantor sekretariat dan tempat tinggal koster, umat bahu membahu mengangkut puing dari pabrik keramik dengan berjalan hingga pintu gereja. Kerinduan memiliki tempat ibadah permanen membuat mereka begitu gigih dan bersemangat. Karena sebelumnya mereka mengadakan Perayaan Ekaristi dengan berpindah tempat dari satu rumah ke rumah lain.
    Kesederhanaan yang tampak dari tampilan fisik yang lokasinya di dalam lorong berbaur dengan masyarakat kampung serta kondisi sosial ekonomi menengah kebawah tidak menyurutkan semangat umat untuk menggereja. Bahkan dari gereja pinggiran inilah tumbuh benih-benih panggilan. Setidaknya tujuh imam dan dua biarawati berasal dari paroki ini. Jemmy Rampengan Pr, Adrianus Manggo,Pr, Christoporus Lamen Sani,Pr, Chrispinus Ginting, OCarm, Stevanus Sri Haryono Putro, Pr,  Johanes Tendens Pr, Ignatius Widhi Harsono, OFM serta Suster Christiani B.Wio, OCarm dan Suster Maria, FMM adalah putera-puteri Ciluar yang terpanggil bekerja di ladang Tuhan. Seorang lagi, Frater Bonifasius  kini tengah menempuh pendidikan imamnya di Seminari Tinggi Bandung.
    Mereka semua berasal dari keluarga sederhana, sebagian besar bahkan dari keluarga tentara berpangkat rendah yang tinggal di barak militer dengan kondisi ekonomi pas-pasan.  Dari gereja kecil, sederhana itu sebagian besar dari mereka dibaptis, menjadi misdinar, lektor dan aktif di mudika. Kemudian benih muda ini tumbuh subur menjadi imam-imam dan biarawati yang mewartakan Kabar Gembira ke semua orang di seluruh penjuru dunia.
    Seperti Santo Andreas, rasul sederhana yang berprofesi sebagai penjala ikan; Nama itu melekat menjadi penjala manusia dan menebarkan terus jala-jala itu sepanjang masa.

Sekilas Sejarah
    Komunitas Katolik di Ciluar berawal tahun 1954 seiring dengan kedatangan anggota Mobrig (kini Brimob) Kompi 5165 Ciledug Tangerang ke Mobrig Djawatan Kepolisian Negara (Mobrig DKN) corps 203 kazernemen (asrama) Kedunghalang. Kebanyakan dari mereka adalah pemuda dari Indonesia Bagian Timur (daerah Nusa Tenggara Timur).
    Saat itu sebagian besar wilayah Pondok Aren, Tanah Baru, Talang Sari maupun Komplek Militer Cimandala seluruhnya masih berupa perkebunan karet (onderneming) sangat luas. Bahkan sebagian wilayahnya masih berupa hutan lebat. Begitu luasnya perkebunan karet tersebut, sehingga pihak perkebunan meminta Peltu Andreas Lerekaka (alm) untuk menjaga lahan disekitar wilayah Kedunghalang.
    Uskup Militer Kol.TNI Sutjipto OFM yang mengetahui keberadaan komunitas kecil umat Katolik di kazernemen corps 203 Kedunghalang langsung tanggap dan secara bergantian dengan rohaniwan lainnya menberikan pelayanan Misa di asrama Brimob. Komunitas kecil Katolik ini lantas dimasukkan dalam Rukun Katolik Kota Bogor X dibawah pembinaan Katedral Bogor.
    Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan lahan permanen yang dapat dipergunakan sebagai tempat ibadah komunitas kecil umat Katolik tersebut. Karena selama ini Perjamua Ekaristi meminjam bangunan semi permanent milik Mobrig DKN Kompi 5113.
    Upaya tersebut menemui titik terang dengan dengan keluarnya Surat Ijin Survey Lokasi. Maka pada awal November 1964 Andreas Lerekaka bersama Apsatu F.Dj.Pareira (Alm) dan F.Lema Patty melakukan survey di jalan Dharmais (kini) masuk dari pohon asam rubuh menelusuri perkebunan karet dan kembali melihat lokasi bangunan darurat milik Perkebunan membujur dari Timur ke Barat (kini bangunan dapur milik Bp.FX.Puan).
    Sementara kegiatan Perayaan Ekaristi terus berlangsung, beberapa bangunan bermunculan menjelang perebutan Pembebasan Irian Barat. Diantaranya Asrama CADUAD (Cadangan Umum Angkatan Darat) seperti Ajen, Pomad, PHB termasuk Angmor merupakan hasil babat perkebunan karet. Dari karyawan Perkebunan sendiri muncul tokoh  yang sangat berjasa dan dikenal giat serta gigih mengupayakan lahan untuk beribadah seperti FX.Puan dan J.R Sudarsono.
    Bermunculan bangunan (asrama militer) baru berarti bertambahnya jumlah umat Katolik. Akibatnya Uskup Militer Uskup Militer Kol.TNI Sutjipto OFM cukup kewalahan melayani dan mengutus Pastor G.E Ruijs OFM bertugas secara khusus melayani umat di     wilayah Ciluar – Kedunghalang.
    Pada saat sedang giatnya team mendapatkan tempat ibadah, secara bersamaan Kantor Sekretariat Kathedral (Utara Gereja) dibongkar lantaran diminta oleh Pemda Bogor untuk dijadikan Taman dan Pos Polisi Lalu Lintas. Oleh Pastor G.E Ruijs, puing bangunan berupa tegel, kayu sampai atap diangkut menggunakan truk dari Brimob dan PHB ke Ciluar.
 

    Puing-puing tersebut dimanfaatkan untuk membangun Balai Pertemuan Katholik Kedunghalang yang kini menjadi Gereja Paroki St.Andreas yang kita tempati sekarang. Bangunan sederhana tersebut diresmikan oleh Uskup Bogor Mgr.Nicholas Geisje SJ pada 30 November 1975 dihadiri oleh Lurah Ciluar, DAN SSK (Pol) dan Danramil TNI-AD. Balai pertemuan tersebut kemudian berubah fungsi menjadi tempat Perjamuan Ekaristi secara tetap setiap hari Minggu dan Hari Raya lainnya dengan Ketua Stasi pertama adalah Bp.J.R Sudarsono.
Sebelum  itu kegiatan Misa termasuk baptisan dan lainnya diadakan bergantian di Kompleks Brimob Kedunghalang, di Kantor Kesehatan KOPEM dibawah tanggung jawab Bidan Magda ataupun di kediaman Bpk.J.R Sudarsono. Selanjutnya Ketua Stasi berganti ke F.DJ Pareira, Yosef.B.Wio, P.Simamora, Cyrillus Adja Mossa, F.X Suyanto dan Ign.Sutedjo. Pada 1 Januari 2005 Gereja Stasi St.Andreas yang menginduk ke Paroki Cibinong, resmi berubah statusnya menjadi Paroki yang lebih mandiri. (Ed)