BERPACARAN: BERAPA LAMA IDEALNYA?

Berpacaran dapat bermacam-macam tingkat kedalamannya. Anak remaja yang baru mengalami “cinta monyet” tentu saja amat berbeda dengan pasangan muda-mudi yang akan segera menikah. Maka, penilaian tentang pacaran yang baik juga harus memperhatikan kedalaman dan lamanya masa pacaran. Sebagai prinsip umum kiranya dapat dikatakan bahwa masa pacaran adalah masa untuk belajar saling mencintai, dengan harapan kelak akan menjadi suami istri yang bahagia. Kedua muda-mudi yang berpacaran mempunyai hak dan kewajiban untuk saling mengenal dan menyayangi. Tentu saja, kasih sayang itu bukan hanya dibicarakan dan dirasakan. Namun, juga harus diungkapkan secara nyata dalam hidup mereka. Ungkapan dan perwujudan kasih sayang antara laki-laki dan perempuan pada umumnya memuat nafsu seksual sekaligus cinta sejati. Mereka yang berpacaran harus dapat belajar membedakan antara cinta sejati yang mempunyai ciri sosial / altruis dan hawa nafsu yang sifatnya egosentris. Kalau mereka kurang mau dan kurang mampu mengendalikan hawa nafsu, maka dalam pacaran mereka tidak akan berhasil mengembangkan cinta sejati. Sebab hanya hawa nafsulah yang dimanjakan dan dipuaskan selama masa pacaran. Berdasarkan pertimbangan di atas, pertanyaan tentang batas-batas pacaran yang baik kiranya dapat dijawab dengan lebih bijaksana dan jelas. Norma pokoknya ialah cinta sejati. Selama pacaran, pasangan muda-mudi hendaknya mengembangkan cinta sejati. Mereka mempunyai hak dan kewajiban mengungkapkan kasih sayang satu sama lain dengan kemesraan dan kehangatan, yang keluar dan bermuara pada cinta sejati, dan dijauhkan dari luapan hawa nafsu yang tidak terkendali. Dengan kata lain, hubungan seks dalam masa pacaran dilarang. Hubungan seks hanya dapat dilakukan berdasarkan cinta dalam perkawinan.
Oleh karena resiko kegagalan pernikahan sekarang begitu besar, maka lebih bijaksana kalau perkenalan itu cukup lama. Perhatikan baik-baik sebelum engkau menerjunkan diri. Pikirkan segala sesuatunya dengan masak-masak; jangan sampai keliru. Ingatlah, pasangan yang memanfaatkan waktu satu tahun penuh untuk saling mengenal dengan baik mempunyai dasar yang jauh lebih kokoh daripada yang menikah setelah berkenalan hanya selama enam bulan. Lebih lama engkau mengenal pasangan dengan baik sebelum menikah, engkau akan lebih jarang menemukan hal-hal yang aneh. Bila ingin memasuki perkawinan dengan aman, ambillah masa pacaran dan pertunangan yang cukup. Jadi, mengapa terburu-buru? Jikalau itu memang cinta sejati, pasti akan tahan uji. Jika tidak, engkau dapat berterimakasih kepada Tuhan sebab engkau menyadarinya sebelum terlambat. Selamat berpacaran, Tuhan memberkati.