SAKRAMEN EKARISTI [10]

REFLEKSI SISTEMATIS: TEOLOGI EKARISTI DALAM AJARAN KONSILI VATIKAN II

 • Konsili Vatikan II merumuskan ajarannya mengenai Ekaristi secara ringkas dalam SC 47:   “Pada perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan    Korban Ekaristi Tubuh dan DarahNya. Dengan demikian, Ia mengabadikan Kurban Salib   untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja MempelaiNya yang terkasih    kenangan Wafat dan KebangkitanNya: sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan    cinta kasih, perjamuan Pasakah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang.”
 • Berpangkal dari SC 47 dan dikaitkan dengan dokumen Vatikan II lainnya, kita bisa    mengambil beberapa point teologis tentang Ekaristi.
 1. Dimensi Kristologis
   Perayaan Ekaristi bukan ciptaan dan rekayasa Gereja. Ekaristi ditetapkan dan diperintahkan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri, yaitu pada perjamuan terakhir, saat Tuhan bersabda, “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku.” Dalam hal ini Vatikan II menegaskan ajaran tradisional (Konsili Trente  DS 1637),
   Ekaristi ditetapka Yesus sebagai kenangan akan DiriNya, yaitu Dia dan karya penyelamatanNya yang berpuncak pada wafat dan kebangkitanNya. Gereja merayakan misteri Paskah Kristus ata maut dihadirkan di situ (bdk. SC 6). Karya penebusan Kristus terwujud dalam Kurban salibNya, maka perayaan Ekaristi  menjadi kenangan Kurban Salib Kristus secara sakramental dalam tindakan liturgis Gereja.
   a)  Ekaristi sebagai kurban
    • Ajaran Vatikan II mengenai Ekaristi sebagai kurban (SC 2.7.47; LG 10.11.28 ; PO 2) jelas berhubungan dengan tradisi teologis dan ajaran Konsili Trente, misalnya, dalam SC 7 sesudah pernyataan “Kristus hadir dalam kurban misa, baik dalam pribadi pelayan.”
    • Vatikan mengutip kata-kata Trente tentang kurban secara harafiah, “Karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengurbankan Diri di kayu salib.” (DS 1743),
    • Di satu pihak, rumusan Ekaristi sebagai kurban ini menegaskan ajaran tradisional Gereja (Trente- DS 1738-1759 dan diulangi Mediator Dei 66). Akan tetapi, dilain pihak, tampaknya Vatikan II memperhatikan suasana diskusi teologis pada waktu itu, khususnya suasana diskusi ekumenis,
    • Dalam teologi Katolik, pertanyaannya bukan lagi seperti Trente, apakah misa itu suatu kurban, tetapi yang dipersoalkan adalah bagaimana “keidentikan” kurban misa dan kurban salib Kristus itu harus dipahami. Bagaimana harus dimengerti bahwa Ekaristi merupakan kurban Ekaristi  yang dirayakan Gereja sekaligus juga kurban salib Kristus,
    • Vatikan II menghubungkan kurban Ekaristi dengan perjamuan terakhir dan kurban salib sakaligus.  Kristus “mengadakan kurban Ekaristi Tubuh dan  DarahNya.” Pada perjamuan terakhir (SC47). Kurban Ekaristi ditetapkan Untuk “mengabadikan kurban salib untuk selamanya.” (SC 47), maka tampak di sini kesatuan kurban Ekaristi dan kurban salib Kristus. Artinya, Ekaristi merupakan suatu kurban di mana Yesus Kristus mengabadikan kurban salibNya yang sekali untuk selamanya itu (Ibrani 7:27) di dalam, melalui, dan dengan Gereja,
   b) Ekaristi sebagai perayaan kenangan (anamnese)
    • Persoalan yang harus dijawab ialah bagaimana kurban Ekaristi sekaligus merupakan kurban salib Kristus juga. SC 47 memberi jawaban atas soal itu      dengan “menabadikan” (prepetuare) dan “kenangan” (memoriale),
    • Pengabadian kurban sakib Kristus terjadi dalam perayaan Ekaristi melalui perayaan kenangan atau memoria. Dengan istilah kenangan, mau  diungkapkan pengertian biblis mengenai anamnese (bahasa Yunan) yang  menunjuk pada tindakan penyelamatan Allah di masa lampau, tetapi  tindakan itu kini dihadirkan secara real dan nyata sedemikian rupa, sehingga sebenarnya yang menjadi objek pengenangan tetaplah tindakan penyelamatan Allah pada hari dan saat ini dan di tempat ini. Mengapa? Karena tindakan Allah tidak pernah bersifat basi dan lampau,
    • Aktualisasi tindakan Allah di masa lampau ke masa sekarang ini tidak pernah terpisahkan dengan cakrawala pandangan ke depan, di mana Allah akan  memenuhi dan menyelesaikan tindakanNya di akhir zaman. Jadi, kenangan atau anamnese ini bukan sekadar tindakan mengingat-ingat secara intelektual atau tindakan melamun untuk mengingat kisah atau pengalaman masa lampau,
    • Demikianlah, dalam perayaan Ekaristi kurban salib Kristus yang sekali untuk selamanya itu kini dikenang. Artinya, dihadirkan dalam kerangka Gereja,  tetapi kini kurban salib Kristus yang satu dan sama itu dirayakan oleh Kristus melalui dan bersama dengan GerejaNya dalam rupa lambang, yaitu roti dan anggur.

 

[Peng An]
Bersambung
Disunting dari buku,
Sakramen-Sakramen Gereja [Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral]
RD. E. Martasudjita
[Kanisius]