REFLEKSI SISTEMATIS: TEOLOGI EKARISTI DALAM AJARAN KONSILI VATIKAN II (2)
REFLEKSI SISTEMATIS: TEOLOGI EKARISTI DALAM AJARAN KONSILI VATIKAN II
PANDANGAN TEOLOGIS DAN AJARAN GEREJA (3)
PANDANGAN TEOLOGIS DAN AJARAN GEREJA (2)
PANDANGAN TEOLOGIS DAN AJARAN GEREJA
1. Ekaristi Dalam Ajaran Para Bapa Gereja. Umumnya para Bapa Gereja melanjutkan gagasan biblis mengenai Ekaristi. Para Bapa Gereja tidak mengalami kesulitan dalam pemikiran sakramental-simbolis. Realis-praesentia, yaitu Kristus yang sungguh hadir dalam rupa simbol roti dan anggur,juga ditekankan dan diterima tanpa persoalan dalam masa Patristik.
• Santo Agustinus dari Antiokhia. Melanjutkan gagasan teologi Ekaristi Santo Paulus, yaitu dengan membangun suatu eklesiologi ekaristik. Menurut isinya, Ignatius mengajarkan mengenai roti Ekaristi sebagai tubuh Tuhan sendiri (Surat untuk umat di Smyrna 7:1, dan umat Roma 7:23),
• Santo Yustinus Martir. Meyakini bahwa santapan Ekaristi adalah tubuh dan darah Yesus Kristus sendiri, dan yang cukup menarik, Yustinus menekankan bahwa Sang Logos itulah yang menjadi Sang Konsekrator sendiri. Kalo begitu, makna epiklese sudah disadari, hanya saja di sini ialah “epiklese Logos”. Teologinya begini, sebagaimana Sang Logos dulu mengambil kodrat manusia, menjadi Yesus, kini Dia pun menjadi daging dalam Ekaristi. Dalam santapan ekaristik, hadirlah Sang Logos yang dulu menjadi manusia dalam Yesus Kristus,
• Santo Irenius. Memahami Ekaristi menurut dua cara pandang.
a. Pandangan ekaristiknya berhubungan dengan pemahamannya yang positif akan penciptaan. Hal ini sangat berlawanan, misalnya, dengan paham gnostisisme. Pandangannya yang positif akan penciptaan ini tampak dalam konsentrasi teologisnya pada realitas tubuh dan darah Yesus,

EKARISTI DALAM PRAKSIS DAN AJARAN GEREJA (2)
EKARISTI DALAM KITAB SUCI [ Bagian ke-4]

EKARISTI DALAM KITAB SUCI [ Bagian ke-3]
EKARISTI DALAM KITAB SUCI [ Bagian ke-2]