Renungan Mingguan (33)

DUDUK DI KANAN KIRINYA?

Bacaan Injil Mrk 10:35-45 mengungkapkan keinginan Yakobus dan Yohanes untuk memperoleh kedudukan di kanan dan kiri Yesus dalam kemuliaannya nanti, tetapi Yesus malah menanyai mereka, sanggupkah minum dari cawan yang diminumnya dan menerima baptisan yang diterimanya. Ditambahkan, ia tak dapat menjanjikan kedudukan itu karena hanya Allah sendirilah yang menentukan siapa yang pantas ke sana. Kemudian Yesus mengatakan, barangsiapa ingin jadi orang besar hendaknya menjadi orang yang melayani orang lain. Bagi Anak Manusia, melayani dan mengamalkan diri menjadi jalan penebusan bagi umat manusia.
Minggu ini juga dirayakan sebagai Minggu Pemberitaan Kabar Gembira. (Juga biasa disebut Minggu Evangelisasi.) Gereja menjalankannya dengan macam-macam bentuk, tapi intinya sama: mendekatkan dunia kepada warta Kristus sang penebus dunia. Injil hari ini mengajak siapa saja yang menerjuni karya misi untuk semakin menyadari bahwa yang diharapkan dari mereka ialah kesanggupan dibaptis dengan baptisan Yesus dan minum dari cawan yang diminumnya juga. Ini pahala terbesar yang bisa diharapkan. Bila begitu, tidak perlu kita merasa terbawa dorongan dan keinginan mendapat tempat sedekat-dekatnya dengan Yesus yang mulia nanti. Misi pengikut Kristus itu bukan program pemurtadan, melainkan ikhtiar untuk berbagi


DUDUK DI KANAN KIRINYA?

Bacaan Injil Mrk 10:35-45 mengungkapkan keinginan Yakobus dan Yohanes untuk memperoleh kedudukan di kanan dan kiri Yesus dalam kemuliaannya nanti, tetapi Yesus malah menanyai mereka, sanggupkah minum dari cawan yang diminumnya dan menerima baptisan yang diterimanya. Ditambahkan, ia tak dapat menjanjikan kedudukan itu karena hanya Allah sendirilah yang menentukan siapa yang pantas ke sana. Kemudian Yesus mengatakan, barangsiapa ingin jadi orang besar hendaknya menjadi orang yang melayani orang lain. Bagi Anak Manusia, melayani dan mengamalkan diri menjadi jalan penebusan bagi umat manusia.
Minggu ini juga dirayakan sebagai Minggu Pemberitaan Kabar Gembira. (Juga biasa disebut Minggu Evangelisasi.) Gereja menjalankannya dengan macam-macam bentuk, tapi intinya sama: mendekatkan dunia kepada warta Kristus sang penebus dunia. Injil hari ini mengajak siapa saja yang menerjuni karya misi untuk semakin menyadari bahwa yang diharapkan dari mereka ialah kesanggupan dibaptis dengan baptisan Yesus dan minum dari cawan yang diminumnya juga. Ini pahala terbesar yang bisa diharapkan. Bila begitu, tidak perlu kita merasa terbawa dorongan dan keinginan mendapat tempat sedekat-dekatnya dengan Yesus yang mulia nanti. Misi pengikut Kristus itu bukan program pemurtadan, melainkan ikhtiar untuk berbagi cita-cita memulihkan keindahan ciptaan. Misi pengikut Kristus bisa dijalani bersama orang dari kepercayaan lain juga! (Ist)

 


SIKAP BERAGAMA DAN KEROHANIAN SEJATI


MASALAH HUKUM ATAU IMAN?

Masalah yang dibawa ke hadapan Yesus oleh orang Farisi kali ini mengenai prinsip boleh tidaknya seorang suami menceraikan istrinya (Mrk 10:2-16). Dalam hukum Taurat, tindakan itu diizinkan, yakni dengan surat cerai resmi yang dibuat oleh suami yang diserahkan - jadi resmi diterima - oleh istrinya. Istri yang diceraikan tadi bisa menikah lagi dengan sah, tetapi bila suami baru menceraikannya atau meninggal, maka bekas suami yang dulu tidak boleh menikahinya kembali.
Penegasan Yesus, seorang suami berzinah terhadap perempuan yang diceraikannya, amat mengagetkan. Yesus memandang perempuan dan lelaki setara dalam hak dan kewajiban. Ditegaskan, bila seorang perempuan menceraikan suaminya lalu menikah lagi, maka perempuan itu bertindak zinah terhadap suaminya. Pernyataan Yesus bahwa istri dapat menceraikan suami, sangat kontroversial! Hukum agama Yahudi tidak mengenal hal ini.
Persoalan ini ialah soal hukum agama Yahudi pada zaman Yesus, bukan perkara hukum Gereja. Jadi tidak bisa diterapkan begitu saja pada peraturan perkawinan dalam Gereja maupun pemecahan masalah kehidupan rumah tangga orang katolik masa kini. Prinsip teologis yang mendasari pendapat Yesus ialah maksud Pencipta dalam menjadikan lelaki dan perempuan, yakni agar mereka bersatu dan janganlah hubungan yang dikehendaki Pencipta diabaikan. Perbincangan Yesus kali ini bukan dimaksud untuk "mempertobatkan" pihak yang kalah berdebat. Pengajaran ini agar kita tidak terpancang pada huruf, melainkan lebih berpegang pada prinsip-prinsip hidup di hadapan Allah..(Ist)


KESERAGAMAN ATAU KERAGAMAN?

Dalam Mrk 9:38-43.45.47-48 diutarakan bagaimana suatu ketika Yohanes, bercerita kepada Yesus bahwa mereka melihat orang yang mengeluarkan setan demi namaNya. Yohanes mencegah, karena orang itu bukan salah satu dari pengikut para murid Yesus! Yesus meluruskan pendapat Yohanes. Dilebarkannya pula pandangan pada murid lainnya. Mereka diajar agar tidak melihat diri sebagai kelompok pusat dalam umat. Janganlah menganggap orang-orang yang belum atau tidak bergabung dengan mereka sebagai bukan pengikut Yesus. Ukuran bagi pengikut Yesus kiranya bukanlah keseragaman dengan para murid tadi, melainkan keselarasan dengan Yesus dan dengan pengutusan yang dijalaninya. Keselarasan ini bisa bermacam-macam ujudnya, bisa memuat keragaman.
Yesus mengajak para murid menumbuhkan kelonggaran hati. Dikatakannya tentang orang yang mengeluarkan setan tapi bukan pengikut mereka, "Jangan kamu cegah dia, sebab tidak ada seorang pun yang telah mengerjakan mukjizat demi namaKu dapat seketika itu juga mengumpat aku." Bagi Yesus orang itu jelas-jelas menjadi pengikutnya. Para murid Yesus, yang paling dekat sekalipun, diminta agar longgar hati menghargai keragaman. Mereka di himbau agar memandang diri dengan cara yang benar. Mendatangkan pahala bagi orang lain bukan karena diri mereka sendiri, melainkan karena mereka itu adalah pengikutnya. Menjadi pengikut Kristus, itulah yang membawakan keselamatan bagi orang lain, bukan menjadi pengikut para murid.
Ia menegaskan betapa berharganya orang yang menjadi pengikut Yesus, siapa saja, entah para murid dekat entah yang di luar kalangan itu. Mereka yang merasa sudah lebih dekat dengannya diminta agar memperhatikan orang-orang yang mau mengikutinya. Kesetiaan pada tanggung jawab ini tanda kejujuran murid sang Guru dan menjadi ukuran bagi integritas Gereja di dunia ini. (Ist)


KESERAGAMAN ATAU KERAGAMAN?

Dalam Mrk 9:38-43.45.47-48 diutarakan bagaimana suatu ketika Yohanes, bercerita kepada Yesus bahwa mereka melihat orang yang mengeluarkan setan demi namaNya. Yohanes mencegah, karena orang itu bukan salah satu dari pengikut para murid Yesus! Yesus meluruskan pendapat Yohanes. Dilebarkannya pula pandangan pada murid lainnya. Mereka diajar agar tidak melihat diri sebagai kelompok pusat dalam umat. Janganlah menganggap orang-orang yang belum atau tidak bergabung dengan mereka sebagai bukan pengikut Yesus. Ukuran bagi pengikut Yesus kiranya bukanlah keseragaman dengan para murid tadi, melainkan keselarasan dengan Yesus dan dengan pengutusan yang dijalaninya. Keselarasan ini bisa bermacam-macam ujudnya, bisa memuat keragaman.
Yesus mengajak para murid menumbuhkan kelonggaran hati. Dikatakannya tentang orang yang mengeluarkan setan tapi bukan pengikut mereka, "Jangan kamu cegah dia, sebab tidak ada seorang pun yang telah mengerjakan mukjizat demi namaKu dapat seketika itu juga mengumpat aku." Bagi Yesus orang itu jelas-jelas menjadi pengikutnya. Para murid Yesus, yang paling dekat sekalipun, diminta agar longgar hati menghargai keragaman. Mereka di himbau agar memandang diri dengan cara yang benar. Mendatangkan pahala bagi orang lain bukan karena diri mereka sendiri, melainkan karena mereka itu adalah pengikutnya. Menjadi pengikut Kristus, itulah yang membawakan keselamatan bagi orang lain, bukan menjadi pengikut para murid.
Ia menegaskan betapa berharganya orang yang menjadi pengikut Yesus, siapa saja, entah para murid dekat entah yang di luar kalangan itu. Mereka yang merasa sudah lebih dekat dengannya diminta agar memperhatikan orang-orang yang mau mengikutinya. Kesetiaan pada tanggung jawab ini tanda kejujuran murid sang Guru dan menjadi ukuran bagi integritas Gereja di dunia ini. (Ist)


MENGIKUTI DIA DIJALANNYA

Injil Mrk 9:30-37 memuat pernyataan Yesus yang keduakalinya kepada para murid mengenai kesengsaraan, salib, serta kebangkitanNya. Yesus memberi pengajaran agar dalam mengikutiNya, para murid tidak berpamrih bakal mendapat kedudukan. Ia berusaha agar para murid memahami arah ke salib dan kebangkitan tadi dengan ikhlas. Murid-murid (juga kita) sulit memahami mengapa ia perlu mengalami penderitaan hingga kematian di salib. Mengapa Yang mahakuasa tidak menyertainya dengan bala tentara surga dan dunia untuk membangun kejayaan umat di hadapan para penentangnya. Mengapa perlu sampai sejauh itu? Mengapa dia, dan juga kita, seolah dibiarkan sendirian di hadapan kekuatan-kekuatan yang kini semakin mengancam?
Kekuatan jahat perlu ditekuni dengan salib, seperti yang dilakukan Yesus. Baru dengan demikian daya gelap akan dapat dikuasai dan diubah menjadi kekuatan terang. perlu disadari bahwa salib tidak identik dengan apa saja yang dirasa sebagai penderitaan. Ada banyak kesusahan yang bukan salib dan mestinya bisa dihindari dan diatasi dengan kebijaksanaan hidup dan ikhtiar. Pelbagai ketimpangan ekonomi dan ketakadilan di masyarakat bukan salib, melainkan musibah sosial yang mesti ditangani dengan serius, dan mengurangi makna salib yang sesungguhnya. Perlu diterima sebagai salib ialah yang dihadapi oleh Yesus sendiri, yakni penolakan manusia terhadap kebaikan ilahi. Inilah realitas jahat yang hanya dapat dihadapi dengan salib. (Ist)


ENGKAULAH MESIAS!

Judul di atas dipetik dari jawaban Petrus (Mrk 8:27-35) terhadap pertanyaan Yesus kepada para murid mengenai siapa dirinya menurut mereka sendiri. Kedengarannya sederhana, muncul dari kesadaran mereka sendiri. Setelah Petrus menegaskan Yesus itu Mesias, anehnya Yesus melarang menyebarluaskan pengertian itu dan selanjutnya mengungkapkan diri dengan "Anak Manusia" dan tidak pernah menyuarakan diri dengan kata "Mesias" .
Teologi Anak Manusia lebih cocok, lebih aktual, dan lebih membuat orang memahami Yesus itu tokoh yang menghadap Dia yang ada di atas sana, bukan tokoh yang mau menjalankan kuasa di sini, juga kuasa batin terhadap pengikut-pengikutnya. Ia baru punya bobot seperti itu nanti setelah wafat di kayu salib. Pada saat itulah sosok Anak Manusia yang tadi datang menghadap Allah itu sampai ke tujuannya dan menerima kemuliaannya sebagai Anak Allah, seperti diucapkan oleh kepala pasukan yang menunggui dia di salib, "Sungguh, orang ini  Anak Allah!"
Gambaran sebagai Anak Manusia menegaskan bahwa anugerah dari Yang Mahakuasa yang diterimanya itu bukan untuk mempertontonkan kuasa, melainkan pemberian kekuatan untuk menanggung penderitaan nanti, sampai dinaikkan di salib. Tapi juga kekuatan yang bakal membuatnya bangkit. (Ist)


EFATA! - TERBUKALAH!

Injil Mrk.7:31-37menampilkan kisah unik: penyembuhan orang tuli. Hanya dalam Injil Markus sajalah peristiwa ini disampaikan. Kisah penyembuhan orang tuli ini mesti dibaca bersama dengan kisah penyembuhan orang buta di Betsaida (Mrk 8:22-26). Makna simboliknya, mereka jadi sembuh dalam perjumpaan dengan Yesus yang tak terduga-duga di tengah perjalanannya, di tengah ziarahnya menemukan kehendak Bapanya. Kesembuhan mereka itu ialah kesembuhan dari ketulian dan kebutaan mengenai siapa sebetulnya Yesus ini. Kisah ini dimaksudkan bagi orang banyak, di mana saja Injil ini terbaca. Hendaknya mereka mengerti bahwa perjumpaan dengan Yesus sang pejalan ini membuka gerbang telinga dan pintu mata. Ketulian sesenyap apapun dan kebutaan segelap apapun tak bisa menahan suara dan terang yang keluar dari diri Yesus.
Sikap dan tindakan Yesus dalam penyembuhan orang tuli itu adalah memisahkannya dari kerumunan orang banyak sehingga hanya mereka berdua saja. Di situ terjadi penyembuhan. Tentu si tuli tadi kemudian bercerita dan dari sana kita tahu bahwa Yesus memasukkan jarinya ke telinga orang itu, meludah dan meraba lidah orang tadi, tapi lebih penting lagi, kemudian sambil menengadah ke langit, ia mendesah dan berkata, dalam bahasa Aram, "Efata!" artinya "Terbukalah!". Ia menengadah menghadirkan kembali kekuatan perkenan dari atas dan menyalurkannya ke dalam telinga dan lidah orang bisu tuli tadi. Adakah kekuatan lain yang dapat menahan suara dan perkenan dari langit yang terbuka tadi? Yesus bukan penyembuh biasa, ia meneruskan perkenan yang meraja di dalam dirinya kepada siapa saja yang mendekat padanya. Ia juga sanggup ikut merasakan penderitaan batin dan fisik orang yang sakit. (Ist)


SIKAP BERAGAMA SEJATI?

Dalam tiap agama ditumbuhkan dan dikembangkan hidup rohani lewat lembaga hukum, aturan, tatacara, upacara, dan pemahaman kisah-kisah sakral (Kitab Suci). ada tujuan kerohanian dan  sarananya, yaitu kelembagaan tadi. Dalam kenyataan kerap tujuan dan sarana saling bertukar. Tata upacara atau hukum agama menjadi makin dipentingkan dan menyingkirkan semua yang dirasa tidak sejalan. Akibatnya, kelembagaan menjadi tujuan beragama, bukan lagi sarana. Sarana kelembagaan dipinggirkan.
Permasalahan ini tecermin dalam Mrk 7:1-8.14-15.21-23. Yesus ditanyai orang Farisi dan ahli Taurat, mengapa murid-muridnya tidak menaati adat turun temurun membasuh tangan sebelum makan. Yesus tidak hendak mengurangi wibawa kelembagaan agama. Ia malah ingin memurnikannya sehingga dapat membawa ke tujuan sejatinya. Ia memakai bahasa yang amat nyata bahwa yang perlu dibasuh bukannya tangan atau piring mangkuk, melainkan batin manusia.
Ada kecenderungan menjalankan sikap keagamaan secara berlebihan. Yang ada di luar lingkup keagamaan dianggap kotor dan busuk. Manakah tujuan hidup beragama sebenarnya melawan dunia dengan asal melawan atau mengembangkan hidup rohani yang mantap sehingga dapat berdialog dengan pihak lain, mungkin kita merasa jauh lebih maju dari kelompok "lain", merasa toleran, terbuka, berpijak pada kenyataan di masyarakat. Sungguh sudah bersihkah yang ada di dalam batin? Apakah kita memiliki cara pandang yang memadai mengenai keadaan di sekitar. Yesus tidaklah mendaftar kebusukan begitu saja, melainkan mengajar mereka di mana benih kebusukan sendiri merajalela, yakni dalam batin manusia yang tak peduli lagi akan sisi-sisi rohani. Batin yang demikian itu memupuk kebusukan. Bagaimana keluar dari sana? Tumbuhkan kepekaan rohani sehingga kebusukan tak subur lagi. (Ist)


Syndicate content