Renungan Mingguan

Bacaan Mingguan


LUAR BIASA!


 

Yoh 6:60-69 menunjukkan bagaimana para murid yang paling dekat pun merasakan kesulitan memahami perkataan Yesus mengenai dirinya sebagai roti kehidupan yang turun dari surga. Lebih sukar lagi mengerti penjelasan Yesus bahwa tak ada seorang pun dapat datang kepadanya bila Bapa tidak mengaruniakannya. Untuk menemukan jalan sampai kepada Bapa katanya, perlu lewat Yesus. Ditandaskan, untuk datang ke Yesus perlu karunia dari Bapa.
  Pengajaran Yesus kepada orang-orang sezamannya dulu memang amat berani. Luar biasa! Bukan hanya mengguncang, tapi juga serasa meruntuhkan bangunan doktrin keagamaan yang tak dipertanyakan dan tak boleh dipertanyakan. Yesus mengurungkan satu pokok yang paling dasar dalam bangunan keagamaan Yahudi, yakni gagasan bahwa dari hari ke hari umat dihidupi langsung oleh Allah dengan makanan dari surga. Ditegaskan, hal itu belum cukup untuk menjamin orang sampai ke tujuan hidup yang sesungguhnya, yakni hidup abadi. Yang bakal menghidupi manusia ialah semua yang dilakukan dan diajarkannya.
Tentu saja klaim seradikal itu bikin geger. Berarti surga kini datang ke dunia manusia. Surga bukan lagi tempat nun jauh di sana dan belum terjangkau. Dalam hal ini hendak ditawarkan ialah benih surga yang tumbuh di dunia ini yang terus akan membesar dan menaungi semua yang hidup di bawahnya. Surga itu kenyataan yang dapat mulai dibangun di sini bersama dengan dia yang ada dalam batin kita - Roti Kehidupan. Lebih lanjut, perjumpaan dengan dia yang amat dekat dengan Allah sendiri menumbuhkan kerohanian yang makin matang. Yesus bukan guru yang mengajarkan abc belaka, ia mengajak orang belajar menemukan Yang Ilahi yang sering samar-samar terlihat dan lirih terdengar. (Ist)


“DAGING” dan “DARAH”

Bagaimana mengarungi gurun kehidupan ini dengan selamat sampai ke tujuan? Dalam hubungan inilah Yesus menampilkan diri kepada orang-orang sezamannya sebagai makanan bagi kehidupan yang turun dari surga. Bila orang mau menerima dan menyatu dengannya, kehidupannya akan dirasuki surga. Inilah yang ditampilkan dalam Yoh 6:51-58.
Yesus merujuk pada semua tindakan, amal, kata-kata dan pelayanannya dalam hidupnya sebagai "daging" dan "darah"-nya. Ungkapan ini menunjukkan betapa semua itu terpadu dalam kehidupannya. Jadi "daging anak manusia" sama dengan semua yang dijalankan Yesus dan diajarkannya. Dalam hubungan ini "makan" dan "minum" mengungkapkan kesatuan baik dengan yang disantap maupun dengan sesama penyantap. Gagasan-gagasan ini diungkapkan dengan "makan dagingku" dan "minum darahku".
Yang Mahakuasa masih memberi makanan dan minuman agar orang dapat menempuh perjalanan hidup. Perjalanan ini penuh unsur yang tak terduga-duga, penuh harapan tapi juga sering harus dititi dengan rasa sakit. Di beberapa tempat di negeri kita sedang mengalami kesusahan akibat bencana alam dan malapetaka sosial. Kepercayaan akan kebesaran Yang Mahakuasa akan membuat orang makin tabah. Juga dalam keadaan sulit kita masih "diberi makan dan minum dari langit". Akan diperoleh makanan yang sama, minuman yang sama, kehidupan yang sama yang telah diperoleh Yesus dari atas sana. Bukan hanya bagi kepentingan perorangan saja, melainkan dalam ikhtiar bersama untuk memperbaiki keadaan, dalam mengatasi kesulitan, dalam saling menguatkan, dan solidaritas sakramental ini dapat menjadi kekuatan untuk berjalan terus sampai ke sana, ke tempat yang telah dicapai Yesus sendiri! (Ist)


Menemukan Yang Hilang

 


MAKANAN YANG MENGHIDUPKAN

 

Pada Injil Yoh 6:24-35 disebutkan bagaimana orang banyak yang telah mendapatkan makan dari Yesus mencarinya di Kapernaum. Mereka menemukan dia di pantai seberang. Seperti dikisahkan Injil Minggu lalu, mereka adalah orang-orang yang ingin menjadikannya raja, tetapi Yesus malah menyingkir, mereka tak habis mengerti. Yesus menjawab dengan mengatakan bahwa yang mereka cari ialah orang yang memberi makan mereka, bukan dia yang membawakan "tanda-tanda". hendak disampaikan bukanlah terutama kedermawanan atau kekuasaannya, melainkan pengalaman nenek moyang mereka diberi makan oleh Allah Tuhan mereka selama berjalan di padang gurun menuju ke Tanah Terjanji. Pemberian makan orang banyak oleh Yesus hendak menampilkan kembali pengalaman umat Perjanjian Lama ini. 
 Orang banyak yang menemui Yesus kali itu diajak menimba kekayaan pengalaman iman leluhur mereka dan mempercayai tindakan Ilahi yang tengah mereka alami. Kini Bapa yang ada di surga memberi kehidupan kepada umat dalam ujud kedatangan Yesus di tengah-tengah mereka. Mereka belum menyadarinya. Mereka baru melihat Yesus sebagai tokoh masyarakat, sebagai yang membela kepentingan mereka, orang yang diharapkan bisa berbicara demi kebutuhan mereka. Namun bukan ke arah itulah Yesus tampil di tengah-tengah umat. Ia tampil sebagai kenyataan hadirnya Yang Ilahi di tengah umat untuk membawa mereka ke akhir perjalanan. Inilah kehidupan yang dibawakannya kepada orang banyak. Bagi orang zaman kini, juga bagi orang yang tidak turun temurun menghayati kisah pemberian manna, petikan Injil kali ini tetap bermanfaat. Diajarkan agar orang membiarkan iman menjadi bagian kehidupan, bahkan menjadi cara untuk menjalankan hal-hal yang dikehendaki yang mahakuasa. (Ist)

 


DOMBA TANPA GEMBALA

Kedua belas murid yang diutus dua berdua ke pelbagai tempat untuk menyiapkan kedatangan Yesus kini kembali berkumpul dengan dia. Tak heran banyak yang tak sabar menunggu. Ada yang mengikuti para rasul yang kembali menemui sang Guru. Orang-orang itu ingin segera melihat sendiri siapa dia yang dikabarkan para utusannya.
Mereka sempat melihat Yesus dan murid-muridnya naik perahu menjauh dan tahu ke mana Yesus dan para murid pergi dan mendahuluinya lewat jalan darat. Ketika turun dari perahu dan melihat orang banyak sudah di sana, Yesus tergerak hatinya melihat mereka seperti domba yang tidak ada gembalanya. Yesus pun mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Hal apa saja yang terdapat dalam Markus 6:30-34 dan diajarkan oleh  Yesus kepada orang-orang itu? Ternyata banyak hal yang diajarkan kepada orang-orang tadi, yaitu mengenai Kerajaan Allah. Mereka seperti domba tanpa gembala. Kini gembala yang mereka temukan ialah yang membawa mereka ke dalam Kerajaan Allah. Hari itu banyaklah yang mereka peroleh dari pengajaran Yesus. Mereka mendapat “makanan” batin. Sebentar lagi mereka akan mendapat makanan berlimpah juga.
Ada dua peran yang dapat diikuti, yakni orang banyak yang antusias dan penuh harapan serta para penggerak yang tak disebut, tetapi hadir dan bekerja di antara mereka. Banyak yang dapat terjadi, mereka saling menguatkan dan mengusahakan perbaikan. Membaca keadaan dan menghadapi dengan kekuatan harapan dan kepercayaan. Masih banyak lagi yang bakal muncul dalam kehidupan nyata. Semuanya ini boleh terjadi di sana, di tempat Ia sudah ditunggu. (Ist)


TULUS MENGHARAPKAN KEDATANGANNYA


SIAPAKAH DIA ITU?

Dalam Mrk 6:1-6, diceritakan bahwa di Nazaret, tempat asalnya sendiri, Yesus "tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun". Amat berbeda dengan bagian-bagian yang mengisahkan bagaimana ia meredakan angin ribut, mengusir banyak roh jahat dari orang Gerasa, menyembuhkan seorang perempuan, dan menghidupkan kembali anak Yairus.
Orang-orang Nazaret itu kehilangan kesempatan melihat siapa sebenarnya Yesus karena memenjarakan diri dengan kategori-kategori yang itu-itu juga: pertama, merasa sudah tahu betul siapa dia, sudah tahu Kristologi komplit, dan kedua, bersikeras bahwa tugasnya ialah membangun kembali kejayaan umat di mata orang lain,tetapi kedua anggapan itu justru menyesatkan. Mereka gagal melihat siapa sebenarnya Yesus dan apa yang dibawakan. Mereka seperti kelaparan dalam lumbung karena tidak mengenali makanan yang tersedia. Bagaimanapun juga, kehadiran Yesus tidak sia-sia. Ia tersedia bagi orang luar. Seperti perumpamaan para undangan yang menolak datang, maka kini perjamuan dibuka bagi siapa saja. Dan kita termasuk yang mendapat rezeki itu.
Yesus mengembalikan manusia pada martabat sejatinya. Bukan manusia sakit, yang tak lagi memiliki daya hidup, yang diombang-ambingkan kekuatan-kekuatan gelap, yang kehilangan arah. Ia membawa kembali mereka menjadi manusia utuh. Itulah mukjizatnya. Dan itulah pengutusan dari atas sana: mendekatkan sosok manusia sehingga makin cocok dengan yang diinginkan Pencipta. Kita sekarang boleh ambil bagian dalam pengutusannya itu. Kita bisa ikut memungkinkan "dinamisNya” - mukjizatNya yang dapat dinikmati orang banyak! (Ist)


TERUS PERCAYA!

Pada Injil Mrk 5:21-43, orang-orang mentertawakan Yesus ketika ia berkata bahwa anak perempuan itu hanya tidur, tidak mati, dan tak usah ribut menangisinya. Mereka tak bisa percaya.  Pada usia 12 tahun, seorang anak mulai menjadi dewasa menurut hukum Taurat dan akan diserahkan kepada Taurat sendiri. Dalam kisah ini anak perempuan itu dipanggil bangun oleh sang Taurat yang hidup. Anak itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendengar. Dan yang didengarnya pertama kali dari Taurat hidup ini ialah panggilan penuh perhatian "Talita", artinya domba betina yang masih kecil, dalam bahasa Aram dipakai untuk menyapa anak perempuan, seperti "Nak!". Kemudian didengarnya perintah "Kum" (=Bangunlah!) dari dia yang menyapa dengan penuh perhatian tadi. Anak perempuan Yairus itu menurut. Ia hidup kembali.

Petrus, Yakobus, dan Yohanes, ikut menyaksikan bagaimana kematian tidak bisa bertahan di hadapan perkataan dia yang membawakan kehidupan baru ini. Mereka melihat sendiri bagaimana harapan dan kepercayaan Yairus menjadi hidup dalam diri anak perempuannya. Inilah yang dibagikan tokoh-tokoh yang paling berwibawa itu kepada kita semua lewat Markus dalam Injil hari ini. Yesus tidak bisa tinggal diam di hadapan harapan yang sebesar itu dan kepercayaan yang selugu itu, dan yang diberikannya kepada mereka ialah perhatian yang nyata. Ini kasih dan inilah yang menyembuhkan, yang menghidupkan. Itulah dahsyatnya berharap kepadaNya. Di situlah letak mukjizatnya. Ist


DALAM KESATUAN DENGAN DIA

Peristiwa yang dikisahkan dalam Injil Mrk 14:12-16, yakni perjamuan malam Yesus bersama para muridnya, dikaitkan Markus dengan Perjamuan Paskah Yahudi. Pada kesempatan itulah Yesus membuat roti dan anggur perjamuan menjadi tanda pemberian diri seutuhnya kepada mereka yang ikut makan dan minum. Kata-kata "inilah tubuhku" (Mrk 14:22) dan "inilah darahku" (24) menjadi ajakan bagi mereka yang ikut serta dalam perjamuan itu untuk menyadari bahwa sebenarnya mereka bersatu dengan dia yang kini menjadi tanda keselamatan bagi orang banyak. Injil merumuskannya sebagai darah perjanjian, yakni yang dulu secara ritual diadakan dalam upacara kurban sembelihan untuk meresmikan Perjanjian.
Bagaimana kita memahami perayaan yang dikisahkan Injil itu bagi orang sekarang? Yang terjadi pada kesempatan itu erat hubungannya dengan inti perayaan ekaristi seperti kita kenal kini. Dalam peristiwa itu kumpulan orang di sekitar Yesus menyadari adanya dua kenyataan. Pertama, kurban Yesus, dan yang kedua ialah kemungkinan berbagi kehidupan dengannya. Kepercayaan inilah yang kemudian berkembang dalam ujud perayaan ibadat ekaristi mengenang kurban tadi. Dan ingatan ini diteruskan turun temurun hingga zaman ini. Tak ada satu hari pun lewat tanpa kenangan tadi. Dalam hal inilah peristiwa perjamuan terakhir tadi masih terus berlangsung. Juga kesatuan dengan dia yang mengorbankan diri demi orang banyak menjadi semakin nyata. (Ist)


HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Syndicate content